Prosedur K3

Hirarki Pengendalian Risiko

Gambar Prosedur K3 - Klik untuk memperbesar

Di Laboratorium Pneumatik SMKN 2 Depok, kami percaya bahwa pengalaman belajar yang maksimal hanya dapat dicapai di lingkungan yang aman. Untuk mewujudkan hal ini, kami menerapkan hirarki pengendalian risiko, sebuah pendekatan sistematis yang diakui secara global untuk mengelola potensi bahaya. Penilaian risiko dilakukan dengan cermat, mempertimbangkan frekuensi dan keparahan potensi bahaya yang ada, melibatkan berbagai pihak untuk memastikan kebijakan K3 efektif dan berkelanjutan (Partiwi et al., 2024).

Memahami Hirarki Pengendalian Risiko

Hirarki pengendalian risiko adalah langkah-langkah yang harus diprioritaskan dalam upaya mengurangi atau menghilangkan risiko. Pendekatan ini dimulai dari metode yang paling efektif hingga yang paling tidak efektif (ILO, 2013):

  1. Eliminasi: Ini adalah metode paling efektif, yaitu menghapus atau menghilangkan sepenuhnya bahan atau tahapan proses yang berbahaya dari suatu aktivitas. Contohnya, jika ada komponen pneumatik yang secara inheren sangat berbahaya dan ada alternatif yang lebih aman tanpa mengorbankan tujuan pembelajaran, maka komponen tersebut dapat dipertimbangkan untuk dieliminasi.
  2. Substitusi: Jika eliminasi tidak memungkinkan, langkah selanjutnya adalah mengganti bahan dengan bahan yang lebih aman atau menggunakan metode yang lebih aman. Misalnya, mengganti fluida bertekanan tertentu dengan udara bertekanan jika sesuai, atau menggunakan jenis selang yang lebih kuat untuk mengurangi risiko pecah.
  3. Rekayasa Teknik: Ini melibatkan upaya memisahkan sumber bahaya dari pekerja atau siswa dengan memodifikasi lingkungan kerja atau peralatan. Contoh di laboratorium pneumatik adalah memasang pelindung transparan pada area pergerakan silinder untuk mencegah kontak langsung dengan jari, atau memasang peredam suara pada kompresor untuk mengurangi kebisingan berlebih. Ini merupakan langkah penting untuk melindungi siswa saat berinterinteraksi langsung dengan sistem pneumatik.
  4. Pengendalian Administratif: Ini adalah upaya pengamanan melalui penerapan prosedur dan kebijakan administratif. Di laboratorium pneumatik, ini termasuk menentukan lokasi kerja yang terpisah untuk aktivitas berisiko tinggi (misalnya, area pengujian tekanan tinggi), membentuk sistem kerja yang lebih aman dan terstruktur (misalnya, prosedur startup dan shutdown yang ketat), serta pemasangan rambu-rambu peringatan yang jelas dan panduan penggunaan alat. Panduan seperti "selalu pastikan tekanan udara telah dibuang (depressurized) sebelum membongkar komponen" adalah contoh pengendalian administratif yang vital.
  5. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD): Ini adalah lapisan terakhir dari perlindungan dan melibatkan penggunaan APD sesuai dengan potensi risiko yang ada untuk melindungi siswa dari cedera atau dampak kesehatan lainnya. Di laboratorium pneumatik, ini mencakup kacamata pengaman wajib, sepatu tertutup, dan mungkin sarung tangan atau pelindung telinga tergantung pada spesifikasi praktik. Meskipun penting, APD hanya mengurangi paparan bahaya, bukan menghilangkannya dari sumber.

Penerapan Hirarki Pengendalian Risiko di SMK: Membangun Keamanan dan Kesiapan Industri

Penerapan kebijakan K3 di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) perlu mengadopsi prinsip yang digunakan di industri dan perguruan tinggi. Ini melibatkan evaluasi awal terhadap kondisi K3, peningkatan kinerja manajemen K3, serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan (Indasah, 2020; Partiwi et al., 2024). Mengingat aktivitas praktik di SMK, khususnya laboratorium pneumatik, memiliki risiko tinggi, pendekatan hirarki pengendalian menjadi sangat penting.

Dengan secara sistematis menerapkan eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administratif, dan penggunaan APD, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya aman tetapi juga kondusif untuk eksplorasi dan inovasi. Keamanan yang terjamin memungkinkan siswa untuk fokus sepenuhnya pada pemahaman konsep, pengembangan keterampilan praktis, dan pemecahan masalah tanpa kekhawatiran yang tidak perlu. Ini akan meningkatkan kualitas pengalaman belajar mereka, serta mempersiapkan mereka dengan lebih baik untuk menghadapi dunia industri dengan pemahaman K3 yang kuat dan kebiasaan kerja yang aman. Penerapan ini memastikan kebijakan K3 di SMK berjalan efektif dan berkelanjutan, memastikan keamanan siswa dalam praktik kerja serta meningkatkan produktivitas dan kesiapan mereka menghadapi dunia industri (ILO, 2009; 2013).

sumber : 

International Labour Organization. (2013). Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Tempat Kerja. Jakarta: International Labour Office. 

Indasah. (2020). Sistem Manajemen K3 Keselamatan & Kesehatan Kerja. Kediri: Strada Press.

Partiwi, S. G., Sudiarno, A., Mertha A. A. S., Imran, R. A., & Virassari. C. D. (2024). Pedoman Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Serta Lingkangan (SMK3L) di Perguruan Tinggi. Jakarta: Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan. 

 

Video Prosedur

Dokumen Lampiran

Pratinjau tidak tersedia untuk tipe file ini.

Kembali ke Daftar Prosedur
×